Sistem hidraulik yang tidak mampu membangun atau mempertahankan tekanan biasanya akan menunjukkan masalah kinerja yang jelas: silinder bergerak lemah, aktuator melambat saat dibebani, kapasitas angkat menurun, atau mesin tidak dapat menyelesaikan siklus kerjanya seperti biasa.
Hilangnya tekanan tidak selalu berarti pompa hidraulik mengalami kerusakan. Penyebab sebenarnya bisa jadi adalah katup pelepas yang mengalirkan oli secara bypass, kebocoran internal di dalam silinder atau katup, adanya udara dalam cairan hidraulik, komponen pompa yang aus, atau kebocoran eksternal di suatu tempat dalam sirkuit.
Cara tercepat untuk menemukan masalahnya adalah dengan terlebih dahulu mengidentifikasi bagaimana tekanan tersebut berkurang, lalu uji sistem tersebut selangkah demi selangkah, bukan dengan mengganti komponen secara sembarangan.
Mengidentifikasi Penyebab Terjadinya Penurunan Tekanan pada Sistem Hidraulik
Sebelum memeriksa komponen-komponennya, perhatikan kapan masalah tekanan tersebut terjadi. Sebagian besar masalah kehilangan tekanan hidraulik dapat dikelompokkan ke dalam tiga situasi.
Sistem Hidraulik Tidak Dapat Menghasilkan Tekanan
Dalam hal ini, tekanan sistem tetap berada di bawah nilai yang diharapkan meskipun aktuator telah mencapai kondisi beban. Mesin mungkin bergerak lambat atau menghasilkan gaya yang sangat kecil.
Penyebab yang umum antara lain pompa yang tidak mampu menghasilkan aliran yang cukup saat beroperasi di bawah beban, katup pelepas tekanan yang tidak disetel dengan benar, katup pelepas tekanan yang macet dalam posisi terbuka, kebocoran internal yang parah, atau aliran oli yang tidak mencukupi ke pompa.
Penurunan Tekanan Hidraulik Saat Dibebani
Sistem tersebut mungkin tampak normal saat beroperasi tanpa beban, tetapi tekanannya akan turun begitu silinder mulai mengangkat, menekan, atau mendorong beban yang sebenarnya.
Hal ini sering kali menandakan adanya keausan pada pompa, kebocoran internal, atau katup yang mengalirkan oli secara tidak langsung. Sebuah komponen mungkin masih dapat berfungsi pada tekanan rendah, tetapi mengalami penurunan aliran yang terlalu besar ketika tekanan yang dibutuhkan meningkat.
Tekanan Hidraulik Tidak Dapat Dipertahankan
Sistem tersebut mungkin pada awalnya mencapai tekanan yang tepat, tetapi kemudian secara bertahap kehilangan tekanan tersebut, padahal aktuator seharusnya tetap diam.
Hal ini biasanya menandakan adanya kebocoran internal pada segel piston silinder, katup arah, katup penahan, atau komponen penahan beban lainnya. Kebocoran eksternal juga dapat menyebabkan gejala yang sama jika oli terlihat mengalir keluar dari sistem.
Mengidentifikasi mana di antara ketiga kondisi ini yang sedang terjadi dapat mempersempit kemungkinan diagnosis secara signifikan.
Cara Mendiagnosis Kehilangan Tekanan pada Sistem Hidraulik
Diagnosis terstruktur biasanya lebih cepat dan lebih andal daripada langsung mengganti pompa atau menyetel katup pelepas. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi apakah terjadi kehilangan tekanan karena sistem tidak dapat menghasilkan tenaga hidraulik yang cukup, oli mengalir secara bypass di dalam sistem, atau aliran terhambat di suatu titik dalam sirkuit.
Langkah 1: Periksa Tingkat Oli, Kondisi, dan Kebocoran Eksternal
Mulailah dengan pemeriksaan yang paling sederhana. Pastikan tangki penampung berisi oli hidrolik yang cukup, lalu periksa selang, sambungan, silinder, katup, dan sambungan pompa untuk memastikan tidak ada kebocoran yang terlihat.
Tingkat oli yang rendah dapat menyebabkan pompa menghisap udara alih-alih pasokan oli yang stabil, yang dapat mengakibatkan tekanan tidak stabil, kebisingan, dan respons aktuator yang lambat. Kebocoran eksternal harus diperbaiki sebelum terus-menerus menambahkan oli, karena mengisi ulang tangki oli tidak akan mengatasi masalah aslinya.
Periksa juga kondisi oli. Oli yang berbusa atau keruh dapat menandakan adanya masuknya udara, sedangkan oli yang sangat kotor dapat memengaruhi katup dan komponen hidraulik lain yang memiliki toleransi ketat.
Langkah 2: Ukur Tekanan Sistem Hidraulik Sesungguhnya
Pasang pengukur tekanan yang sesuai pada titik yang tepat dalam rangkaian, lalu bandingkan tekanan yang terukur dengan tekanan kerja yang diharapkan.
Amati sistem tersebut dalam berbagai kondisi. Apakah sistem tersebut gagal membangun tekanan sejak awal? Apakah tekanan mencapai nilai yang benar tanpa beban, tetapi turun saat silinder mulai bekerja? Atau apakah tekanan turun setelah aktuator berhenti bergerak?
Pembacaan tekanan ini membantu menentukan bagian mana dari rangkaian yang harus diperiksa selanjutnya.
Tekanan yang diukur di saluran keluar pompa mungkin juga berbeda dengan tekanan yang sampai ke aktuator karena katup, sambungan, selang, dan komponen lainnya menyebabkan kehilangan tekanan.
Langkah 3: Periksa Katup Pelepas Tekanan
Katup pelepas membatasi tekanan maksimum sistem hidraulik dengan mengalirkan kembali oli ke tangki saat tekanan mencapai nilai yang telah ditetapkan.
Jika katup disetel terlalu rendah, terkontaminasi, rusak, atau macet dalam posisi setengah terbuka, oli mungkin akan kembali ke tangki sebelum sistem mencapai tekanan kerja yang diperlukan. Hal ini dapat membuat seluruh sistem hidraulik tampak lemah meskipun pompa masih berfungsi dengan baik.
Pengaturan tekanan pelepas harus diverifikasi menggunakan pengukur tekanan dan dibandingkan dengan persyaratan desain sistem. Setiap penyesuaian harus tetap berada dalam batas tekanan pengenal pompa, silinder, katup, selang, dan alat sambung.
Meningkatkan pengaturan pelepasan hanya untuk mendapatkan gaya yang lebih besar bukanlah solusi yang aman jika masalah sebenarnya adalah ukuran silinder yang terlalu kecil atau kebocoran internal.
Langkah 4: Mengevaluasi Pompa Hidraulik
Jika katup pelepas berfungsi dengan benar, periksa apakah pompa hidraulik masih dapat menghasilkan aliran yang memadai pada tekanan yang dibutuhkan.
Pompa yang sudah aus mungkin masih dapat beroperasi pada beban rendah, tetapi mengalami penurunan debit yang terlalu besar di bagian dalamnya seiring meningkatnya tekanan. Akibatnya, sistem mungkin tampak normal tanpa adanya hambatan, namun mengalami penurunan tekanan dan kecepatan saat mesin mulai beroperasi.
Tanda-tanda yang umum antara lain penurunan kecepatan aktuator, tekanan rendah saat beban, suara pompa yang berlebihan, suhu yang tidak normal, dan pembacaan tekanan yang tidak stabil.
Namun, penggantian pompa tidak boleh hanya didasarkan pada tekanan rendah saja. Kebocoran internal di bagian lain dalam sirkuit dapat menimbulkan gejala yang serupa.
Langkah 5: Periksa Apakah Ada Kebocoran Internal
Kebocoran internal merupakan penyebab umum terjadinya penurunan tekanan hidraulik ketika tidak terdapat kebocoran oli eksternal yang jelas.
Oli dapat bocor secara internal melalui segel piston silinder yang aus, katup arah, katup proporsional, katup satu arah, atau komponen pengatur lainnya. Alih-alih menghasilkan gaya aktuator yang berguna, sebagian aliran pompa bocor melalui jalur kebocoran internal.
Misalnya, silinder dengan segel piston yang aus mungkin dapat bergerak secara normal tanpa beban, tetapi tidak mampu menghasilkan gaya yang cukup atau mempertahankan posisinya saat diberi beban.
Jika silinder bergerak sendiri saat katup pengatur berada dalam posisi netral, kebocoran mungkin terjadi di dalam silinder atau pada katup yang mengendalikannya. Memisahkan bagian-bagian sirkuit dan memantau tekanan dapat membantu menemukan jalur bypass tersebut.
Langkah 6: Periksa Masuknya Udara dan Hambatan Hidraulik
Udara yang terperangkap dalam oli hidrolik dapat menyebabkan tekanan yang tidak stabil, gerakan aktuator yang lambat atau tersendat-sendat, kebisingan yang berlebihan, serta respons sistem yang buruk. Penyebab umum antara lain tingkat oli yang rendah, sambungan hisap yang longgar, selang hisap yang rusak, atau proses pembuangan udara yang tidak tuntas setelah pemeliharaan.
Sisi hisap pompa perlu mendapat perhatian khusus karena dapat menarik udara ke dalam sistem tanpa harus menyebabkan kebocoran oli ke luar.
Halangan-halangan juga perlu diperiksa. Filter yang tersumbat, selang hisap yang rusak, pipa berdiameter terlalu kecil, katup yang terkontaminasi, atau saluran yang tersumbat sebagian dapat mengurangi jumlah oli yang mencapai pompa atau aktuator.
Pengukuran tekanan yang dilakukan di berbagai lokasi dapat membantu mengidentifikasi penurunan tekanan yang tidak normal pada bagian penyempitan.
Urutan diagnosis yang praktis adalah:
Tingkat & Kondisi Oli → Kebocoran Eksternal → Pengukuran Tekanan → Katup Pengaman → Pompa → Kebocoran Internal → Udara & Hambatan
Cara Mengatasi Kehilangan Tekanan pada Sistem Hidraulik
Perbaikan yang tepat bergantung pada penyebab yang teridentifikasi selama proses diagnosis.
Masalah pada katup pelepas mungkin memerlukan pembersihan, penyetelan, atau penggantian. Pompa yang sudah aus mungkin perlu diperbaiki atau diganti jika kebocoran internal menghalangi pompa tersebut untuk mempertahankan laju aliran yang diperlukan pada tekanan kerja.
Kebocoran internal pada silinder hidrolik mungkin memerlukan penggantian segel piston, sedangkan kebocoran yang berlebihan melalui katup pengatur mungkin memerlukan perbaikan atau penggantian katup. Masalah masuknya udara memerlukan perbaikan kebocoran di sisi hisap dan pelepasan udara dari sistem hidrolik secara benar.
Filter yang tersumbat, selang yang rusak, dan oli yang sangat kotor juga harus diperbaiki sesuai dengan kondisi sistem yang sebenarnya.
Setelah diperbaiki, sistem hidrolik harus diuji kembali di bawah beban operasi yang sebenarnya, bukan hanya dalam kondisi idle.
Kesalahan Umum Terkait Kehilangan Tekanan Hidraulik
Salah satu kesalahan umum adalah menganggap bahwa setiap masalah tekanan rendah disebabkan oleh pompa hidraulik. Pompa memang penting, tetapi katup pelepas, silinder, dan katup pengatur juga dapat menimbulkan gejala yang sangat mirip.
Kesalahan lainnya adalah menaikkan pengaturan katup pelepas sebelum menemukan penyebabnya. Hal ini mungkin dapat meningkatkan tekanan untuk sementara, tetapi dapat menyebabkan beban berlebih pada komponen yang tidak dirancang untuk tekanan operasi yang lebih tinggi.
Penting juga untuk tidak hanya mengandalkan tekanan saja. Sebuah sistem mungkin menunjukkan adanya tekanan pada pengukur, namun tetap tidak memiliki aliran yang memadai saat beroperasi di bawah beban.
Pendekatan yang lebih baik adalah dengan mengukur tekanan, mengamati kapan penurunan tekanan terjadi, dan mengidentifikasi di mana oli mengalir melintasi jalur normal atau mengalami hambatan.
Kesimpulan: Lakukan Diagnosis Sistem Hidraulik Sebelum Mengganti Komponen
Kehilangan tekanan hidraulik biasanya disebabkan oleh salah satu dari beberapa masalah dasar berikut: output pompa yang tidak memadai, pengoperasian katup pelepas yang tidak tepat, kebocoran internal, kebocoran eksternal, adanya udara dalam oli, atau hambatan aliran yang berlebihan.
Langkah pertama yang paling penting adalah menentukan apakah sistem tersebut tidak dapat membangun tekanan, kehilangan tekanan saat dikenai beban, atau tidak dapat mempertahankan tekanan setelah mencapai nilai target.
Setelah perilaku tersebut teridentifikasi, diagnosis terstruktur dapat membantu mengidentifikasi inti masalah dengan cepat:
Minyak & Kebocoran → Pengukuran Tekanan → Katup Pelepas → Pompa → Kebocoran Internal → Udara & Hambatan
Pendekatan ini membantu mengurangi penggantian komponen yang tidak perlu dan memudahkan pemulihan kekuatan, kecepatan, serta keandalan sistem hidraulik seperti semula.
Butuh Bantuan untuk Sistem Hidraulik?
AISOAR menyediakan unit tenaga hidraulik dan solusi sistem hidraulik yang disesuaikan untuk peralatan industri dan kendaraan bergerak. Konfigurasi sistem dapat dirancang sesuai dengan tekanan, laju aliran, spesifikasi aktuator, siklus kerja, dan persyaratan pengendalian yang dibutuhkan.
Untuk proyek OEM atau evaluasi sistem hidraulik, penyampaian informasi mengenai tekanan kerja sistem, debit pompa, spesifikasi aktuator, informasi sirkuit, serta penjelasan mengenai masalah yang terjadi dapat membantu tim teknik kami mengevaluasi sistem tersebut dengan lebih efisien.



